Belakangan banyak orang mengira bahwa ajaran Hindu di Bali sudah jauh dari Weda, tapi ternyata Tri murti membuktikan bahwa itu tidak benar.
Tri murti sendiri muncul sebagai wadah untuk menyatukan 6 aliran keyakinan besar yang ada saat itu (+/- 1001 ), yaitu :
- Aliran Brahma.
- Aliran Wisnu.
- Aliran Siwa.
- Aliran Ganesha.
- Aliran Budha.
- Aliran Durgha.
Yang menyebutkan dirinya sebagai kelompok Bairawa. Penyatuan 6 aliran besar menyebabkan nafas rohanirohani di Bali menjadi beragam, namun yang unik Tri murti mampu memberikan suatu konsep yang tidak terbantahkan yang juga memberikan penegas bahwa walaupun ujud Tuhan yang diyakini berbeda-beda namun ke 6 keyakinan tersebut mempunyai tujuan yang satu, yakni " Moksartam jagadita ca iti Dharma ".
Pengertian konsep itu adalah: " Jika kita melihat objek itu dengan 10 indria yang melekat pada tubuh, yang bersifat materi ( tidak kekal ), maka sesungguhnya kita hanya menyimpulkan segala sesuatu yang bersifat ilusi.
Karena Tuhan bersifat rohani (kekal), maka untuk mengenal lalu memahaminya kita harus menggunakan indria rohani, indria rohani baru kita akan peroleh dengan cara merubah sifat tubuh yang tidak kekal, menjadi sifat roh yang kekal.
Artinya, seseorang yang sudah mencapai sifat roh, dia akan melihat setiap perwujudan Tuhan adalah kekal, dengan kata lain, Brahma adalah Wisnu, Wisnu adalah Siwa, juga Dhurga, juga Budha, Juga Ganesha, bahkan setiap benda atau pun mahluk hidup yang dilihatnya dipastikan ada Tuhan didalam nya.
Tri murti mengajarkan tidak harus menyamakan keyakinan untuk mencapai moksah (pembebasan), karena kita memang harus menyadari bahwa sang roh saat ini, hidup di dalam tubuh yang berbeda dari karma yang berbeda, interaksi terhadap alam pun berbeda sehingga analisa yang akhirnya membentuk keyakinanpun berbeda.
Namun jika mereka berhasil mencapai pencerahan, dan selama hidup di dunia lebih memilih sifat rohnya dan bukan sifat tubuhnya, maka mereka akan menyikapi segala perbedaan sebagai objek untuk menambah kecerdasan rohnya dan tidak lagi terpengaruh dengan perbedaan tersebut, dan tanpa disadari saat itu ia sudah mulai terbebas dari ikatan sifat alam yang begitu kuat yaitu sifat satyam, rajas, tamas, kondisi inilah yang disebut moksa.
Sekarang kita lihat bagaimana meditasi 10 aksara bisa saling melengkapi ajaran Tri murti, bisa disimpulkan bahwa Trimurti mengajarkan dengan penegasan bahwa moksa bisa dicapai jika kita mampu memahami sifat alam (Satyam, Rajas, Tamas), kapan sifat alam tersebut menguasai kita sampai akhirnya dengan mudah kita kuasai lalu kita lepaskan.
Dalam Meditasi 10 aksara ini kita disadarkan bahwa, sifat alam yang mengikat sang roh paling kuat justru yang berada pada tubuh kita yang disebut dengan Panc Maha Butha (5 unsur materi yang membuat sang roh menjadai amat sangat bodoh), panca maha butha ini dibentuk oleh sifat alam tadi (Satyam, Rajas, Tamas).
Meditasi ini adalah proses menganalisa, merasakan, sampai melepas ketiga sifat alam, yang membuat roh menjadi bodoh. Kebodohan itu bisa dibuktikan mana kala manusia memilih hidupnya untuk menikmati materi, karena mereka menganggap materi yang sesungguhnya ilusi adalah nyata,jika meditasi 10 aksara rajin kita lakukan untuk mencapi tahap sesuai ketentuan, niscaya kita bisa membedakan mana yang ilusi mana yang nyata. Sedangkan materi yang selama ini kita kejar justru akan menjadi kebahagian sang roh karena lebih banyak di alokasikan sebagai manfaat bagi orang banyak.
Percayalah jika sifat roh sudah mampumengalahkan sifat Satyam, Rajas, Tamas, maka materi tidak akan pernah putus-putusnya, karena sesungguhnya roh itu amat kaya. Kesimpulannya meditasi 10 aksara mempermudah konsep Trimurti, sekaligus mempercepat mencapai pencerahan hingga pemahaman tentang moksa.
Tri murti sendiri muncul sebagai wadah untuk menyatukan 6 aliran keyakinan besar yang ada saat itu (+/- 1001 ), yaitu :
- Aliran Brahma.
- Aliran Wisnu.
- Aliran Siwa.
- Aliran Ganesha.
- Aliran Budha.
- Aliran Durgha.
Yang menyebutkan dirinya sebagai kelompok Bairawa. Penyatuan 6 aliran besar menyebabkan nafas rohanirohani di Bali menjadi beragam, namun yang unik Tri murti mampu memberikan suatu konsep yang tidak terbantahkan yang juga memberikan penegas bahwa walaupun ujud Tuhan yang diyakini berbeda-beda namun ke 6 keyakinan tersebut mempunyai tujuan yang satu, yakni " Moksartam jagadita ca iti Dharma ".
Pengertian konsep itu adalah: " Jika kita melihat objek itu dengan 10 indria yang melekat pada tubuh, yang bersifat materi ( tidak kekal ), maka sesungguhnya kita hanya menyimpulkan segala sesuatu yang bersifat ilusi.
Karena Tuhan bersifat rohani (kekal), maka untuk mengenal lalu memahaminya kita harus menggunakan indria rohani, indria rohani baru kita akan peroleh dengan cara merubah sifat tubuh yang tidak kekal, menjadi sifat roh yang kekal.
Artinya, seseorang yang sudah mencapai sifat roh, dia akan melihat setiap perwujudan Tuhan adalah kekal, dengan kata lain, Brahma adalah Wisnu, Wisnu adalah Siwa, juga Dhurga, juga Budha, Juga Ganesha, bahkan setiap benda atau pun mahluk hidup yang dilihatnya dipastikan ada Tuhan didalam nya.
Tri murti mengajarkan tidak harus menyamakan keyakinan untuk mencapai moksah (pembebasan), karena kita memang harus menyadari bahwa sang roh saat ini, hidup di dalam tubuh yang berbeda dari karma yang berbeda, interaksi terhadap alam pun berbeda sehingga analisa yang akhirnya membentuk keyakinanpun berbeda.
Namun jika mereka berhasil mencapai pencerahan, dan selama hidup di dunia lebih memilih sifat rohnya dan bukan sifat tubuhnya, maka mereka akan menyikapi segala perbedaan sebagai objek untuk menambah kecerdasan rohnya dan tidak lagi terpengaruh dengan perbedaan tersebut, dan tanpa disadari saat itu ia sudah mulai terbebas dari ikatan sifat alam yang begitu kuat yaitu sifat satyam, rajas, tamas, kondisi inilah yang disebut moksa.
Sekarang kita lihat bagaimana meditasi 10 aksara bisa saling melengkapi ajaran Tri murti, bisa disimpulkan bahwa Trimurti mengajarkan dengan penegasan bahwa moksa bisa dicapai jika kita mampu memahami sifat alam (Satyam, Rajas, Tamas), kapan sifat alam tersebut menguasai kita sampai akhirnya dengan mudah kita kuasai lalu kita lepaskan.
Dalam Meditasi 10 aksara ini kita disadarkan bahwa, sifat alam yang mengikat sang roh paling kuat justru yang berada pada tubuh kita yang disebut dengan Panc Maha Butha (5 unsur materi yang membuat sang roh menjadai amat sangat bodoh), panca maha butha ini dibentuk oleh sifat alam tadi (Satyam, Rajas, Tamas).
Meditasi ini adalah proses menganalisa, merasakan, sampai melepas ketiga sifat alam, yang membuat roh menjadi bodoh. Kebodohan itu bisa dibuktikan mana kala manusia memilih hidupnya untuk menikmati materi, karena mereka menganggap materi yang sesungguhnya ilusi adalah nyata,jika meditasi 10 aksara rajin kita lakukan untuk mencapi tahap sesuai ketentuan, niscaya kita bisa membedakan mana yang ilusi mana yang nyata. Sedangkan materi yang selama ini kita kejar justru akan menjadi kebahagian sang roh karena lebih banyak di alokasikan sebagai manfaat bagi orang banyak.
Percayalah jika sifat roh sudah mampumengalahkan sifat Satyam, Rajas, Tamas, maka materi tidak akan pernah putus-putusnya, karena sesungguhnya roh itu amat kaya. Kesimpulannya meditasi 10 aksara mempermudah konsep Trimurti, sekaligus mempercepat mencapai pencerahan hingga pemahaman tentang moksa.


0 komentar:
Poskan Komentar